Resensi
Novel Cinta dan Kewajiban
- Identitas Buku
1.. Judul : Cinta
dan Kewajiban
2. Nama Pengarang : L.Wairata dan
Nur St, Iskandar
3. Penerbit : Balai
Pustaka
4. Tahun Penerbit : Pertama
tahun 1957 dan terakhir 2000
5. Kota Terbit : Jakarta
- Pengarangan
Nur
Sutan Iskandar adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.
Nur Sutan Iskandar memiliki nama
asli Muhammad Nur. Seperti
umumnya lelaki Minangkabau lainnya
Muhammad Nur mendapat gelar ketika menikah.
Gelar Sutan Iskandar yang diperolehnya kemudian dipadukan dengan nama aslinya dan
Muhammad Nur pun lebih dikenal sebagai
Nur Sutan Iskandar sampai sekarang.
Setelah
menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919 ia hijrah ke Jakarta.
Di sana ia bekerja di Balai Pustaka,
pertama kali sebagai korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka
(1925-1942). Karya-karya yang diciptakan seperti Apa Dayaku karena Aku Perempuan(Jakarta: Balai
Pustaka,1923),Cinta yang Membawa
Maut( Jakarta: Balai Pustaka, 1926), Salah Pilih ( Jakarta: Balai Pustaka, 1928), Cinta dan Kewajiban (Jakarta:
Balai Pustaka, 1941).
Sinopsis
Di suatu desa di Tihulale, Ambon ada
sepasang suami dan istri bernama Sina dan
Steven. Mereka memiliki sepasang anak Andi dan Ani. Ani baru berumur kira- kira 18 tahun, gadis remaja yang
bersifat sabar dan betertib. Sifat yang demikian dihiasi oleh paras yang elok, sehingga ia jadi ’’ sebutan ‘’
di dalam kampungnya. Bapaknya yang
selalu berlaku terlalu kasar kepada Ibunya. Memang kesenangan seperti dua orang berlaki-isrti. Setiap hari,
setiap saat dan waktu, tampak oleh matanya
sendiri Bapaknya menampar, menempeleng dan memukul Ibunya dengan tiada semena-mena. Tiba-tiba saat didengarnya
kata-kata yang kotor keluar dari mulut Bapaknya
terhadap Ibunya. Lebih-lebih kalau
Steven pulang dalam keadaan mabuk, berapa
kali Sina diusirnya seperti anjing, ditinju dan diterjangkannya, sehingga perempuan yang lemah itu jatuh
terguling-guling. Oleh karena teringat akan sekalian hal itu, lebih-lebih lagi karena melihat air mata ibunya itu
berlinang-linang, sedang batuknya
yang ngeri itu telah terdengar pula, Ani pun tak dapat lagi menahan hati. Ia menangkup ke pangkuan Sina dan
menangis dengan sayu dan rawan.
Dengan
perlahan-lahan Sina membelai-belai rambutnya dengan tangannya yang kecil kisut itu, seraya berkata dengan
suara bertahan-tahan. Aku mengucapkan syukur
kepada Tuhan, karena Ia telah mengkurniakan engkau kepadaku dalam pejuangan hidupaku di dunia ini. Ibu
girang melihat rupamu…. Akan tetapi, Anakku, rupa
dan parasmu itu pun membimbangkan hati ibu pula. Kalau ibu terdahulu daripadamu…’’. Pada ketika Sina masih
muda, dia dipertunangkan oleh neneknya dengan
seorang anak muda. Tetapi Sina tidak tahu sekali-kali dan tak kenal kepada orang itu. Apalagi ketika itu Sina
sudah berteguh-teguhan janji akan kawin dengan Steven.
Sina dan Steven pun kawin lari. Ketika itu Steven telah jadi sedadu di tanah Jawa. Pada saat itu keberadaan Steven
ada di tanah Jawa pada salah satu batalyon Angkatan
Darat. Rumah itu hanya dihuni oleh Steven, Sina, Ani, dan Dirk.
Sakit
yang diderita Sina semakin parah batuk
kering yang dideritanya sehingga
mengakibatkan Sina meninggal dunia. Sebelum meninggal dia menulis surat yang ditujukan kepada suami dan
anaknya. Ani tak kuasa menahan tangisnya melihat ibunya sudah tak bernyawa lagi. Didalam suratnya Sina
berpesan agar menyeimbangkan
antara cinta dan kewajiban dan selalu menjaga ayahnya. Banyak tetangga yang datang untuk
menyatakan bela sungkawa dan banyak pula yang menggunjing
Steven atas perbuatannya. Sepeninggal ibunya Ani jatuh sakit dan tinggal di rumah Popi, sahabatnya.
Pada
suatu itu pun Ani mulai bekerja dengan rajin di rumah orang tuanya. Perkakas yang
bertabur-tabur dikemasinya dan diletakkannya di tempat masing-masing dengan teratur. Selama ayahnya masih di
bawah pengaruh arak selalu dijauhinya. Akan
tetapi pagi-pagi
Dua
bulan telah berlalu, Steven menikah dengan Ros. Sebenarnya Ani tidak suka memiliki ibu tiri, apalagi Ros adalah orang
yang bengis dan pandai menghasut. Perilakunya
terhadap Ani layaknya seorang Dirk, Ros selalu berlagak seperti ratu di rumah itu. Setelah menikah dengan Ros, tingkah
laku Steven kembali seperti dulu lagi.
Suka mabuk-mabukan. Tiap jam Steven dan Ros bertengkar, tidak hanya dengan mulut tapi dengan fisik. Di tengah masyarakat
telah tersiar kabar bahwa Ros telah hamil
terlebih dahulu sebelum menikah. Buktinya usia pernikahan mereka masih 3 bulan,tetapi usia kandungan Ros sudah hampir
7 bulan.
Setiap
hari Ani mengerjakan pekerjaan rumah tangga, banyak laki-laki yang ingin meminangnya, namun hanya satu
yang memikat hatinya, yaitu Bram calon guru dari
Stovil. Akan tetapi tak ada seorang pun yang tahu perihal hubungan mereka. Mereka saling bertukar surat dan membuat
suatu janji yang suci. Suatu hari Ani bertemu
salah satu sahabatnya yang bernama Fin.
Saat mereka saling bercerita, Ani dikejutkan
perkataan Fin bahwa dirinya akan segera menikah dengan Bram. Fin adalah wanita pilihan ibu Bram. Akan tetapi, Bram menegaskan jika wanita yang ia cintai hanyalah Ani. Ani merasa lega
mendengarnya, namun dia tak dapat langsung menikah
dengan Bram demi menjaga perasaan Fin. Ani akan menikah setelah Fin bersuami.
Usia kandungan Ros telah memasuki bulan ke-9. Saat Ros akan melahirkan dia menyuruh Ani untuk memberitahu Steven. ‘’Di mana ayahmu’’. Sejak tadi pagi tak ada di rumah, Ibu. Perlu saya cari?’’Dengan tanggap Ani memanggil Bidan Koba. Bidan Koba bekerja di dalam bilik Ros menyediakan apa-apa yang perlu untuk menolong dia. Dengan sehabis-habis akal Bidan Koba mencoba menolong jiwa Ros,tetapi tidak berhasil. Koba memberikan isyarat kepada Steven, supaya ia hampir kepada istrinya. Takkala Ros melihat suaminya, ia pun berkata dengan putus-putus, ‘’Suamiku, aku akan pergi dari sampingmu… Lapangkan jalanku, ampuni segala dosaku kepadamu. ‘’Ani, anakku… maaf. Banyak … benar kesalahan Ibu…kepadamu. Kukira engkau… tembaga, kiranya… emas sejati. Tuhan akan membalas segala… kebaikanmu.
Usia kandungan Ros telah memasuki bulan ke-9. Saat Ros akan melahirkan dia menyuruh Ani untuk memberitahu Steven. ‘’Di mana ayahmu’’. Sejak tadi pagi tak ada di rumah, Ibu. Perlu saya cari?’’Dengan tanggap Ani memanggil Bidan Koba. Bidan Koba bekerja di dalam bilik Ros menyediakan apa-apa yang perlu untuk menolong dia. Dengan sehabis-habis akal Bidan Koba mencoba menolong jiwa Ros,tetapi tidak berhasil. Koba memberikan isyarat kepada Steven, supaya ia hampir kepada istrinya. Takkala Ros melihat suaminya, ia pun berkata dengan putus-putus, ‘’Suamiku, aku akan pergi dari sampingmu… Lapangkan jalanku, ampuni segala dosaku kepadamu. ‘’Ani, anakku… maaf. Banyak … benar kesalahan Ibu…kepadamu. Kukira engkau… tembaga, kiranya… emas sejati. Tuhan akan membalas segala… kebaikanmu.
Sekarang
rumah itu hanya dihuni oleh Steven dan Ani. Namun hal itu tak berlangsung lama, Andi yang sudah berpangkat kopral
telah pulang. Demi diceritakan Ani tentang kebaikan
Popi kepada keluarganya, Andi ingin membalas budi dengan cara menikahi Popi. ‘’Bukan karena Popi tidak suka kepadamu,
Andi,’’ tetapi ia tak mau menikah bukan berdasarkan cinta. Selain itu dia hendak pergi
ke Jawa untuk menjadi seorang perawat.
Andi kecewa karena niatnya menikahi Popi tak dapat terlaksana. Lalu, Ani pun mengenalkan Fin kepada Andi.
Meskipun Fin tak seelok Popi, Andi menyukai Fin
karena sifatnya yang baik hati. Mereka pun menikah.
Suatu
hari, Ani. Mendengar bunyi suara orang berteriak-teriak sengan cemas, Rumah terbakar! Rumah terbakar…! Ani pun
langsung keluar rumah, tiba-tiba terdengar
olehnya suara orang berkata dengan
terharu kecemasan.’’ Rumah minuman terbakar,
telah habis…’’. Dengan tak terpikir panjang lagi ia pun melompat ke tengah jalan besar, lalu berlari ke kedai itu. Tentu
ayahnya ada di situ, tentu Steven… Benar, terdengar
percakapan demikian, ‘’. Sebagai orang gila Ani berlari secepat-cepatnya. Ani mencoba menyelamatkan ayahnya, namun
dihalangi oleh Bram karena api sudah terlalu
besar. Setelah api berhasil dipadamkan. Mayat Steven dan temannya sudah tak dapat dikenali lagi. Sekarang Ani menjadi
seorang anak yatim piatu, hanyalah Andi satu-satunya
keluarga yang tersisa.
Selang beberapa lama Ani sembuh pula
dari penyakitnya. Dengan lemah lembut
ia dipelihara dan dihibur oleh Bram dan Ibu Bapakya, Ani minta syukur kepada Tuhan, karena telah dipelihara
dari bahaya maut. Sepuluh hari kemudian Ani dan
Bram pun menikah, perkawinan keduanya berlangsung dengan selamat. Walau pesta kawin itu sederhana sekalipun,
tapi cukup memuaskan hati keduanya. Kemudian mereka
pun berlayar ke Ambon, ke tempat pekerjaan Bram. Di sana mereks itu hidup dengan berkasih-kasih, di situ Ani
menjalankan kewajiban pula dengan cinta-kasih terhadap
bram, kewajiban dan cinta, yang mesti ada pada tiap-tiap
perempuan yang hendak hidup bahagia di
sisi suaminya. Andi dan Fin hendak balik
ke Tihulale kembali, apabila
Andi telah mendapat pension. Kemudian Andi dan Fin telah memiliki tiga anak laki-laki sudah ada
dikampungnya. Dan akhirnya Kedua kakak beradik
itu hidup bahagia bersama pasangannya masing-masing.
Unsur Instrinsik Novel
- Tema
Cinta
dan Kewajiban kepada ibu dan anaknya
- Tokoh
Sina : Sabar dan penyayang
‘’ Sosok orang
yang sabar walaupun dia diperlakukan seperti binatang oleh suaminya’’.“Dengan perlahan-lahan Sina membelai-belai
rambut Ani, seraya berkata menangis.”
Steven : Kasar
“ tampak oleh matanya sendiri bapaknya menampar,
menempeleng dan memukul ibunya...”
Ani :
sabar, dan cantik
“ Ani baru berumur kira-kira 18 tahun jangan,
gadis remaja yang bersifat sabar dan bertertib.” ‘’ Ani gadis yang memiliki paras yang elok,
banyak laki-laki yang ingin melamarnya’’.
Popi :
baik hati
“
Memang Popi bagus, baik hati dan suka menolong dia ketika dalam kesukaran.”
Ros :
cerewet
“ Ia cerewet, tiada sabar, kerap kali berbantah dengan orang setangganya”
Fin : perhatian
“
Kalau begitu lebih baik kamu masuk rumah. Memang kurang baik angin sore ini”
- Alur
Novel
ini menggunakan alur campuran , dimana penulis menceritakan masa lalu. Sina dikutuk oleh ayahnya
karena Sina dan Steven menikah. Ketika Ani kehilangan
Ibunya dan Ayahnya kawin lagi dengan perempuan yang tidak baik tabiatnya. Akhirnya ketika Ayahnya meninggal
dan Ani menikah dengan Bram dan mereka hidup
bahagia dengan kedua anak mereka.
- Sudut Pandang
Dalam
novel ini sudut pandang yang digunakan penulis adalah orang ketiga, dimana penulis bertindak sebagai
sutradara yang mengetahui segala perasaan maupun konflik batin yang dialami para tokoh.
“ Ani baru berumur 18 tahun, gadis remaja
yang bersifat sabar dan bertertib.”
‘’Ketika Ani telah tertidur, barulah Popi
keluar dari biliknya.”
- Latar
Latar tempat
Suatu
hari di desa Tihulale, Ambon ada sepasang suami istri, Steven dan Sina dengan
dua orang anaknya, Andi dan Ani.
Latar
waktu
Petang
“ Seperti biasa pada tiap-tiap petang hari,
kedua beranak itu duduk di situ...”
Latar
suasana
Segar
“...karena pada saat itu hari bagus dan hawa
kering dan segar.’’
- Gaya Bahasa
Personifikasi
“Cahaya matahari yang hampir
terbenam bersinar dengan lemah-lembut dan berwarna kemerah-merahan.”
- Amanat
Kita harus menjadi anak yang
berbakti kepada orang tua tak peduli bagaimana keadaan
mereka itu.
Unsur Ekstrinsik
Nilai
moral
Nilai
moral dalam novel ini sangat kental. Sifat-sifat yang tergambar menunjukkan
rasa humanis yang terang dalam diri seorang remaja dalam menyikapi lerasnya
kehidupan.
Nilai
adat istiadat
Nilai
adat di sini juga begitu kental terasa. Adat kebiasaan pada seorang anak yang
rajin. Ketika ayahnya bangun dia menyediakan segala kesukaannya.
Nilai Agama
Nilai Agama
Nilai
agama
Nilai
agama pada novel ini juga secara jelas tergambar.Terutama pada bagian-bagian dimana seorang Ibu bersyukur kepada
Tuhan dengan mengkurniakan engkau kepadaku
dalam perjuangan hidupku di dunia ini.
Kelebihan
Bayak
kelebihan – kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi kekayaan alur yang mengajak pembaca masuk
dalam cerita hingga merasakan
tiap latar yang terdeskripsikan
secara sempurna.
Kelemahan
Kelemahan
novel ini didapatkan berdasarkan bahasa yang terbelit-belit sehingga pembaca merasa sulit dengan bahasanya.
Kesimpulan
Novel ini pantas dibaca untuk siapa saja. Sesuai
konsepnya yang inspirasional, novel ini
memberikan kita banyak inspirasi, pesan dan kesan yang dapat mengalir hingga kelubuk hati dan pikiran. Di novel ini
mengajarkan kita untuk mendahulukan kewajiban
dari pada cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar