Rabu, 09 November 2016

Resensi novel



Resensi Novel Cinta dan Kewajiban
  1. Identitas Buku
              1.. Judul                    : Cinta dan Kewajiban
              2. Nama Pengarang   : L.Wairata dan Nur St, Iskandar
              3. Penerbit                 : Balai Pustaka
              4. Tahun Penerbit      : Pertama tahun 1957 dan  terakhir 2000
              5. Kota Terbit            : Jakarta
  1. Pengarangan
                        Nur Sutan Iskandar adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka. Nur Sutan          Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau lainnya Muhammad Nur mendapat gelar ketika  menikah. Gelar Sutan Iskandar yang diperolehnya   kemudian dipadukan dengan nama aslinya dan Muhammad Nur pun   lebih dikenal sebagai Nur Sutan Iskandar sampai sekarang.
                        Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919 ia hijrah ke Jakarta. Di sana ia bekerja di Balai Pustaka, pertama kali sebagai korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Karya-karya yang diciptakan seperti Apa Dayaku karena Aku Perempuan(Jakarta: Balai Pustaka,1923),Cinta yang Membawa Maut( Jakarta: Balai Pustaka, 1926), Salah Pilih ( Jakarta: Balai Pustaka, 1928), Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941).
            Sinopsis
                        Di suatu desa di Tihulale, Ambon ada sepasang suami dan istri bernama Sina dan Steven. Mereka memiliki sepasang anak Andi dan Ani. Ani baru berumur kira- kira 18 tahun, gadis remaja yang bersifat sabar dan betertib. Sifat yang demikian dihiasi oleh paras yang elok, sehingga ia jadi ’’ sebutan ‘’ di dalam kampungnya.   Bapaknya yang selalu berlaku terlalu kasar kepada Ibunya. Memang kesenangan    seperti dua orang berlaki-isrti. Setiap hari, setiap saat dan waktu, tampak oleh             matanya sendiri Bapaknya menampar, menempeleng dan memukul Ibunya dengan tiada semena-mena. Tiba-tiba saat didengarnya kata-kata yang kotor keluar dari mulut  Bapaknya terhadap Ibunya.  Lebih-lebih kalau Steven pulang dalam keadaan mabuk,  berapa kali Sina diusirnya seperti anjing, ditinju dan diterjangkannya, sehingga perempuan yang lemah itu jatuh terguling-guling. Oleh karena teringat akan sekalian hal itu, lebih-lebih lagi karena melihat air mata ibunya itu berlinang-linang, sedang batuknya yang ngeri itu telah terdengar pula, Ani pun tak dapat lagi menahan hati. Ia  menangkup ke pangkuan Sina dan menangis dengan sayu dan rawan.
                        Dengan perlahan-lahan Sina membelai-belai rambutnya dengan tangannya yang kecil kisut itu, seraya berkata dengan suara bertahan-tahan. Aku mengucapkan syukur kepada Tuhan, karena Ia telah mengkurniakan engkau kepadaku dalam pejuangan hidupaku di dunia ini. Ibu girang melihat rupamu…. Akan tetapi, Anakku, rupa dan parasmu itu pun membimbangkan hati ibu pula. Kalau ibu terdahulu  daripadamu…’’. Pada ketika Sina masih muda, dia dipertunangkan oleh neneknya  dengan seorang anak muda. Tetapi Sina tidak tahu sekali-kali dan tak kenal kepada  orang itu. Apalagi ketika itu Sina sudah berteguh-teguhan janji akan kawin dengan Steven. Sina dan Steven pun kawin lari. Ketika itu Steven telah jadi sedadu di tanah  Jawa. Pada saat itu keberadaan Steven ada di tanah Jawa pada salah satu batalyon Angkatan Darat. Rumah itu hanya dihuni oleh Steven, Sina, Ani, dan Dirk.
                        Sakit yang diderita Sina semakin parah  batuk kering yang dideritanya  sehingga mengakibatkan Sina meninggal dunia. Sebelum meninggal dia menulis surat  yang ditujukan kepada suami dan anaknya. Ani tak kuasa menahan tangisnya melihat  ibunya sudah tak bernyawa lagi. Didalam suratnya Sina berpesan agar menyeimbangkan antara cinta dan kewajiban dan selalu menjaga ayahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menyatakan bela sungkawa dan banyak pula yang menggunjing Steven atas perbuatannya. Sepeninggal ibunya Ani jatuh sakit dan  tinggal di rumah Popi, sahabatnya.
            Pada suatu itu pun Ani mulai bekerja dengan rajin di rumah orang tuanya. Perkakas  yang bertabur-tabur dikemasinya dan diletakkannya di tempat masing-masing dengan teratur. Selama ayahnya masih di bawah pengaruh arak selalu dijauhinya. Akan tetapi pagi-pagi 
            Dua bulan telah berlalu, Steven menikah dengan Ros. Sebenarnya Ani tidak suka   memiliki ibu tiri, apalagi Ros adalah orang yang bengis dan pandai menghasut. Perilakunya terhadap Ani layaknya seorang Dirk, Ros selalu berlagak seperti ratu di rumah itu. Setelah menikah dengan Ros, tingkah laku Steven kembali seperti dulu lagi. Suka mabuk-mabukan. Tiap jam Steven dan Ros bertengkar, tidak hanya dengan   mulut tapi dengan fisik. Di tengah masyarakat telah tersiar kabar bahwa Ros telah  hamil terlebih dahulu sebelum menikah. Buktinya usia pernikahan mereka masih 3  bulan,tetapi usia kandungan Ros sudah hampir 7 bulan.

                        Setiap hari Ani mengerjakan pekerjaan rumah tangga, banyak laki-laki yang ingin meminangnya, namun hanya satu yang memikat hatinya, yaitu Bram calon guru dari Stovil. Akan tetapi tak ada seorang pun yang tahu perihal hubungan mereka. Mereka saling bertukar surat dan membuat suatu janji yang suci. Suatu hari Ani   bertemu salah satu sahabatnya yang bernama Fin. Saat mereka saling bercerita, Ani dikejutkan perkataan Fin bahwa dirinya akan segera menikah dengan Bram. Fin  adalah wanita pilihan ibu Bram. Akan tetapi, Bram menegaskan jika wanita yang ia cintai hanyalah Ani. Ani merasa lega mendengarnya, namun dia tak dapat langsung menikah dengan Bram demi menjaga perasaan Fin. Ani akan menikah setelah Fin  bersuami.
            Usia kandungan Ros telah memasuki bulan ke-9. Saat Ros akan melahirkan dia menyuruh Ani untuk memberitahu Steven. ‘’Di mana ayahmu’’. Sejak tadi pagi tak ada di rumah, Ibu. Perlu saya cari?’’Dengan tanggap Ani memanggil Bidan Koba.  Bidan Koba bekerja di dalam bilik Ros menyediakan apa-apa yang perlu untuk  menolong dia. Dengan sehabis-habis akal Bidan Koba mencoba menolong jiwa Ros,tetapi tidak berhasil. Koba memberikan isyarat kepada Steven, supaya ia hampir  kepada istrinya. Takkala Ros melihat suaminya, ia pun berkata dengan putus-putus,           ‘’Suamiku, aku akan pergi dari sampingmu… Lapangkan jalanku, ampuni segala   dosaku kepadamu. ‘’Ani, anakku… maaf. Banyak … benar kesalahan Ibu…kepadamu. Kukira engkau… tembaga, kiranya… emas sejati. Tuhan akan membalas  segala… kebaikanmu.
            Sekarang rumah itu hanya dihuni oleh Steven dan Ani. Namun hal itu tak berlangsung       lama, Andi yang sudah berpangkat kopral telah pulang. Demi diceritakan Ani tentang  kebaikan Popi kepada keluarganya, Andi ingin membalas budi dengan cara menikahi   Popi. ‘’Bukan karena Popi tidak suka kepadamu, Andi,’’ tetapi ia tak mau menikah   bukan berdasarkan cinta. Selain itu dia hendak pergi ke Jawa untuk menjadi seorang perawat. Andi kecewa karena niatnya menikahi Popi tak dapat terlaksana. Lalu, Ani   pun mengenalkan Fin kepada Andi. Meskipun Fin tak seelok Popi, Andi menyukai  Fin karena sifatnya yang baik hati. Mereka pun menikah.
                        Suatu hari, Ani. Mendengar bunyi suara orang berteriak-teriak sengan cemas,         Rumah terbakar! Rumah terbakar…! Ani pun langsung keluar rumah, tiba-tiba terdengar olehnya suara  orang berkata dengan terharu kecemasan.’’ Rumah minuman  terbakar, telah habis…’’. Dengan tak terpikir panjang lagi ia pun melompat ke tengah jalan besar, lalu berlari ke kedai itu. Tentu ayahnya ada di situ, tentu Steven… Benar,  terdengar percakapan demikian, ‘’. Sebagai orang gila Ani berlari secepat-cepatnya.  Ani mencoba menyelamatkan ayahnya, namun dihalangi oleh Bram karena api sudah  terlalu besar. Setelah api berhasil dipadamkan. Mayat Steven dan temannya sudah tak  dapat dikenali lagi. Sekarang Ani menjadi seorang anak yatim piatu, hanyalah Andi satu-satunya keluarga yang tersisa.
                        Selang beberapa lama Ani sembuh pula dari penyakitnya. Dengan lemah                 lembut ia dipelihara dan dihibur oleh Bram dan Ibu Bapakya, Ani minta syukur  kepada Tuhan, karena telah dipelihara dari bahaya maut. Sepuluh hari kemudian Ani dan Bram pun menikah, perkawinan keduanya berlangsung dengan selamat. Walau pesta kawin itu sederhana sekalipun, tapi cukup memuaskan hati keduanya. Kemudian  mereka pun berlayar ke Ambon, ke tempat pekerjaan Bram. Di sana mereks itu hidup dengan berkasih-kasih, di situ Ani menjalankan kewajiban pula dengan cinta-kasih    terhadap bram, kewajiban dan cinta, yang mesti ada pada tiap-tiap perempuan yang    hendak hidup bahagia di sisi suaminya. Andi dan Fin  hendak balik ke Tihulale             kembali, apabila Andi telah mendapat pension. Kemudian Andi dan Fin telah  memiliki tiga anak laki-laki sudah ada dikampungnya. Dan akhirnya Kedua kakak  beradik itu hidup bahagia bersama pasangannya masing-masing.

            Unsur Instrinsik Novel
  1. Tema
Cinta dan Kewajiban kepada ibu dan anaknya
  1. Tokoh
 Sina : Sabar dan penyayang
‘’ Sosok orang yang sabar walaupun dia diperlakukan seperti binatang oleh suaminya’’.“Dengan perlahan-lahan Sina membelai-belai rambut Ani, seraya berkata menangis.”
Steven : Kasar
“ tampak oleh matanya sendiri bapaknya menampar, menempeleng dan memukul  ibunya...”
            Ani : sabar, dan cantik
             “ Ani baru berumur kira-kira 18 tahun jangan, gadis remaja yang bersifat sabar dan        bertertib.” ‘’ Ani gadis yang memiliki paras yang elok, banyak laki-laki yang ingin     melamarnya’’.
            Popi : baik hati
            “ Memang Popi bagus, baik hati dan suka menolong dia ketika dalam kesukaran.”
            Ros : cerewet
            Ia cerewet, tiada sabar, kerap kali berbantah dengan orang setangganya”
            Fin : perhatian
            “ Kalau begitu lebih baik kamu masuk rumah. Memang kurang baik angin sore ini”
  1. Alur
                        Novel ini menggunakan alur campuran , dimana penulis menceritakan masa            lalu. Sina dikutuk oleh ayahnya karena Sina dan Steven menikah. Ketika Ani kehilangan Ibunya dan Ayahnya kawin lagi dengan perempuan yang tidak baik tabiatnya. Akhirnya ketika Ayahnya meninggal dan Ani menikah dengan Bram  dan   mereka hidup bahagia dengan kedua anak mereka.
  1. Sudut Pandang
                        Dalam novel ini sudut pandang yang digunakan penulis adalah orang ketiga,          dimana penulis bertindak sebagai sutradara yang mengetahui segala perasaan maupun   konflik batin yang dialami para tokoh.
            “ Ani baru berumur 18 tahun, gadis remaja yang bersifat sabar dan bertertib.”
            ‘’Ketika Ani telah tertidur, barulah Popi keluar dari biliknya.”
  1. Latar
Latar tempat
Suatu hari di desa Tihulale, Ambon ada sepasang suami istri, Steven dan Sina dengan dua orang anaknya, Andi dan Ani.
Latar waktu
            Petang
            “ Seperti biasa pada tiap-tiap petang hari, kedua beranak itu duduk di situ...”
            Latar suasana
                              Segar
            “...karena pada saat itu hari bagus dan hawa kering dan segar.’’
  1. Gaya Bahasa
  Personifikasi
            “Cahaya matahari yang hampir terbenam bersinar dengan lemah-lembut dan berwarna       kemerah-merahan.”
  1. Amanat
            Kita harus menjadi anak yang berbakti kepada orang tua tak peduli bagaimana keadaan mereka itu.
Unsur Ekstrinsik
Nilai moral
Nilai moral dalam novel ini sangat kental. Sifat-sifat yang tergambar menunjukkan rasa humanis yang terang dalam diri seorang remaja dalam menyikapi lerasnya kehidupan.
Nilai adat istiadat
Nilai adat di sini juga begitu kental terasa. Adat kebiasaan pada seorang anak yang rajin. Ketika ayahnya bangun dia menyediakan segala kesukaannya.
Nilai Agama   
            Nilai agama
            Nilai agama pada novel ini juga secara jelas tergambar.Terutama pada bagian-bagian          dimana seorang Ibu bersyukur kepada Tuhan dengan mengkurniakan engkau   kepadaku dalam perjuangan hidupku di dunia ini.
            Kelebihan
            Bayak kelebihan – kelebihan yang didapatkan dalam novel ini. Mulai dari segi  kekayaan alur yang mengajak pembaca masuk dalam cerita hingga merasakan tiap latar yang terdeskripsikan secara sempurna.
            Kelemahan
            Kelemahan novel ini didapatkan berdasarkan bahasa yang terbelit-belit sehingga    pembaca merasa sulit dengan bahasanya.
            Kesimpulan
            Novel ini pantas dibaca untuk siapa saja. Sesuai konsepnya yang inspirasional, novel   ini memberikan kita banyak inspirasi, pesan dan kesan yang dapat mengalir hingga kelubuk hati dan pikiran. Di novel ini mengajarkan kita untuk mendahulukan  kewajiban dari pada cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar